Rabu, 20 Februari 2013

E-Health

1. Sejarah Perkembangan E-Health
Sejak tahun 1960-an hingga saat ini, banyak istilah yang telah dipakai untuk menggambarkan sistem rekam medis otomatis. Istilah yang digunakan untuk menggambarkan sistem ini berubah seiring kemajuan teknologi dan karena berkembangnya sistem otomatis dari aplikasi komputer tunggal menjadi kombinasi dari berbagai sistem jaringan yang sama.


Pada periode 1970-1980, istilah catatan medis yang terkomputerisasi digunakan untuk menggambarkan upaya otomatisasi catatan medis awal. Upaya otomatisasi awal difokuskan pada pengembangan kesiagaan, catatan administrasi pengobatan, penyedia komunikasi perintah, dan catatan. Sistem otomatis ini terutama digunakan dalam jenis sistem berikut : pendaftaran pasien, keuangan, laboratorium, radiologi, farmasi, keperawatan, dan terapi pernapasan. Selama tahun 1970-an, banyak catatan medis terkomputerisasi dikembangkan dalam aturan universitas untuk penggunaan yang disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan kesatuan, sehingga sistem ini tidak bisa dengan mudah diimplementasikan di fasilitas lainnya.
Sepanjang tahun 1980, pengembangan sistem otomatis lambat, tapi visi dari sistem catatan elektronik adalah untuk tujuan dari industri perawatan kesehatan. Institute of Medicine (IOM), pada tahun 1991, merilis sebuah laporan berjudul (The Record Pasien Based Record) catatan medis berbasis komputer: “Sebuah Teknologi Penting untuk Kesehatan”. Tujuan dari laporan ini adalah untuk mengembangkan sistem otomatis yang akan memberikan catatan pasien secara longitudinal. Suatu catatan pasien longitudinal berisi catatan dari episode/peristiwa yang berbeda dari suatu perawatan, penyedia, dan fasilitas yang dihubungkan dengan sebuah bentuk tampilan, waktu ke waktu, dari pertemuan perawatan kesehatan pasien. IOM menyimpulkan bahwa ini dapat dicapai melalui catatan pasien berbasis komputer (CPR). CPR adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan yang lebih luas dari suatu catatan pasien yang telah ada pada 1990-an.
CPR bersifat multidisiplin dan multienterprise, dan memiliki kemampuan untuk menghubungkan informasi pasien di lokasi yang berbeda menurut pengenal pasien yang unik. Meskipun ini adalah keuntungan utama dari sistem CPR, ada juga keuntungan lain dari sistem catatan otomatis ini. CPR juga menyediakan akses untuk masalah kesehatan yang lengkap dan akurat, status, dan data pengobatan; dan berisi peringatan (misalnya, interaksi obat) dan pengingat (misalnya, pemberitahuan pembaruan resep) untuk penyedia layanan kesehatan. Menurut laporan Institute of Medicine tahun 1991, catatan elektronik harus mendukung sebagai berikut:

  • Dokter dapat mengakses informasi pasien
  • Hasil tes baru dan lama di beberapa perawatan
  • Catatan yang terkomputerisasi
  • Komputerisasi keputusan sistem pendukung untuk mencegah interaksi obat dan meningkatkan kepatuhan dengan praktik terbaik
  • Komunikasi elektronik yang aman antara penyedia dan pasien
  • Pasien dapat mengakses catatan, manajemen alat-alat penyakit, dan sumber daya informasi kesehatan
  • Komputerisasi pada proses administrasi, seperti sistem penjadwalan
  • Standar berbasis penyimpanan data elektronik
  • Pelaporan untuk keselamatan pasien dan upaya surveilans penyakit


Edisi kedua dari laporan ini dirilis pada tahun 1997, yang selanjutnya divalidasi untuk pengembangan sistem otomatis rekam medis.  Sebagai sistem otomatis dikembangkan sepanjang tahun 1990-an, perintah, transkripsi, dan fungsi pencitraan dokumen digabung dengan fungsi CPR.  Pencitraan dokumen dan pencitraan disk optik disediakan alternatif untuk mikrofilm tradisional atau sistem penyimpanan jauh karena catatan pasien dikonversi menjadi gambar elektronik dan disimpan pada server atau disk optik. Pencitraan Optical disk menggunakan teknologi laser untuk membuat gambar. Scanner digunakan untuk menangkap gambar dalam kertas catatan ke media penyimpanan elektronik.


2. E-Health di Indonesia
Indonesia harus memiliki arsitektur Electronic Health (e-health) nasional yang didukung oleh road map buatan pemangku kepentingan di industri kesehatan agar Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) bisa optimal digunakan untuk kesejahteraan masyarakat.
e-health merupakan suatu bentuk layanan kesehatan secara elektronis yang mempunyai tujuan untuk mendukung kegiatan kesehatan secara umum dan meningkatkan kualitas layanan. Roadmap ini harus menyangkut masalah aristektur teknologi, proses bisnis dan juga tata kelola dengan segala regulasi pendukungnya.
Arsitektur teknologi sebaiknya dikaitkan dengan teknologi yang efisien tapi tetap menjaga keamanan dan privacy pasien. Teknologi Cloud Computing bisa dijadikan sebagai tulang punggungnya. TIK dengan perkembanganya memiliki sifat interaktif bergerak dengan kecepatan tinggi sehingga memungkinkan untuk membantu manusia mengelola kesehatannya. Saat ini masih terjadi disparitas layanan kesehatan di perkotaan dan di daerah. Pemanfaatan kemajuan teknologi informasi akan dapat menekan kondisi tersebut dan juga menghindari membludaknya jumlah pasien ke rumah sakit besar yang mestinya hanya menangani pasien dengan tingkat kesulitan tertentu.


Pengembangan e-health perlu didasarkan pada kebutuhan pengguna akan layanan kesehatan, sehingga akan tercipta e-health yang tepat sasaran dan mampu meningkatkan derajat kesehatan di Indonesia. Saat ini ekosistem kesehatan terdiri dari beberapa komponen yaitu, pengguna (pasien dengan berbagai level ekonomi), pemerintah sebagai regulator dan fasiliastor, dokter, rumah sakit, apotik, industri obat dan penyelenggara maupun pendukung kesehatan lainnya. Masing-masing komponen bisa membangun dengan program TIK masing-masing. Namun demikian karena pasien itu berpindah-pindah dan perlu penanganan yang cepat, akurat dan murah, maka diperlukan suatu sistem TIK yang baik.
Saat ini banyak aplikasi telah dikembangkan, baik untuk rumah sakit apotik, puskesmas, dan lain-lainya. Namun demikian apakah masing-masing komponen telah bisa berintegrasi? Integrasi dibutuhkan mulai dari data pasien (rekam medis), tempat praktek dokter, test laboratorium hingga pemberian resep dokter secara elektronik.


3. Telemedicine
Telemedicine didefinisikan sebagai penggunaan telekomunikasi untuk menyediakan informasi medis maupun layanan medis. Aplikasi ini bisa sangat sederhana misalnya dalam bentuk 2 profesional kesehatan berdiskusi tentang suatu kasus melalui telepon atau menggunakan teleconference, atau sangat canggih menggunakan teknologi satelit untuk mengirimkan konsultasi antar provider pada fasilitas yang berbeda negara menggunakan teleconference atau teknologi robotik. Keadaan yang pertama dilakukan setiap hari oleh kebanyakan tenaga kesehatan dan yang terakhir digunakan oleh militer dan beberapa pusat kesehatan.


Tipe-Tipe Teknologi yang Digunakan
Dua jenis teknologi yang berbeda paling banyak digunakan dalam aplikasi telemedicine sekarang ini. Yang pertama dikenal dengan istilah store dan forward digunakan untuk mentransfer image digital dari satu lokasi ke lokasi yang lain. Sebuah citra digital diambil menggunakan kamera digital (disimpan) dan kemudian di kirim (forward) oleh komputer ke lokasi lainnya. Hal ini biasanya dilakukan untuk kondisi yang tidak darurat, ketika sebuah diagnosis atau konsultasi dibuat dalam kurun waktu 24-48 jam dan dikirim kembali.
Gambar mungkin dikirimkan dalam 1 gedung, antar gedung dalam 1 kota atau dari beberapa lokasi ditempat yang berbeda negara. Teleradiology, pengiriman gambar X-ray, CT scan atau MRI adalah aplikasi yang paling sering digunakan dalam dunia telemedicine saat ini. Ada ratusan pusat kesehatan, klinik dan dokter pribadi yang menggunakan beberapa bentuk teleradiologi. Beberapa radiologis menginstall teknologi komputer di rumah mereka, sehinggga mereka bisa menerima gambar yang dikirim ke mereka dan melakukan diagnosis, daripada harus menempuh perjalanan ke klinik atau rumah sakit tertentu.
Telepathology adalah contoh lain dari penggunaan teknologi telemedicine. Citra pathologi dikirim dari satu lokasi ke lokasi lainnya untuk konsultasi diagnosis. Dermatologi juga cocok untuk pengaplikasian telemedicine (meskipun praktisi lebih banyak mencoba menggunakan teknologi interaktif untuk pengamatan kulit). Citra digital dari kondisi suatu kulit diambil dan dikirim ke dermatologist untuk diagnosis. Teknologi lain yang paling sering digunakan adalah IATV (Inter Active TV) dua arah. Teknologi ini digunakan ketika konsultasi face to face diperlukan. Pasien dan kadang-kadang provider atau seorang perawat atau koordinator telemedicine berada di satu sisi, disisi lain adalah seorang spesialis biasanya di tempat pusat kesehatan yang lebih maju. Peralatan video conference untuk dua sisi memungkinkan konsultasi ”real-time” bisa dilakukan. Teknologi ini telah mengalami banyak penurunan harga dan kompleksitas dalam waktu 5 tahun terakhir, dan banyak program sekarang menggunakan aplikasi teleconference desktop. Ada banyak konfigurasi untuk konsultasi interaktif, tapi yang paling umum adalah konfigurasi antara kota dan desa. Ini berarti pasien tidak harus menempuh perjalanan dari desa ke kota untuk menjumpai seorang spesialis, dan dibeberapa kasus seorang spesialis bisa disediakan untuk daerah-daerah yang jauh tanpa kehadiran secara fisik spesialis tadi di daerah-daerah tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar